Recent update

Subscribe to RSS feed

Puasa Bulan Ramadhan Dan Momentum Rejuvenasi Kesalehan Ritual Menuju Kesalehan Sosial

September 5th, 2008 by proletar

Oleh : Firman Wijaya
Mantan Ketua Umum HMI Cabang Bogor Periode 2006-2007 M

Ramadhan bulan yang penuh hikmah didalamnya, alangkah gembiranya hati mereka yang beriman dengan kedatangan bulan ramadhan. Umat Islam tidak saja diperintahkan menunaikan ibadah selama sebulan penuh dengan balasan pahala yang berlipat ganda. Namun, lebih dari semua itu, hanya di bulan Ramdhanlah terdapat Lailatul Qadar, satu malam yang kadar kebaikannya jauh lebih baik dari pada seribu bulan ( + 83 tahun). Tentunya satiap umat muslim diseluruh penjuru bumi sangat mendambakan mendapatkan Lailatul Qadar. Hanya hamba-hamba-Nya yang terpilihlah yang akan mendapatkan keagungan Lailatul Qadar. Bulan Ramadhan, kehadirannya memang sangat dinantikan oleh milyaran kaum muslim di seluruh dunia.

Jadi jelaslah bagi kita bahwa untuk menjadi orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah kita diberi kesempatan selama sebulan Ramadhan, melatih diri kita, menahan hawa nafsu kita dari makan dan minum, mencampuri isteri, menahan diri dari perkataan dan perbuatan yang sia-sia, seperti berkata bohong, membuat fitnah dan tipu daya, merasa dengki dan khianat, memecah belah persatuan ummat, dan berbagai perbuatan jahat lainnya (Alatas: 2007).

Rasullah SAW bersabda : “Bukanlah puasa itu hanya sekedar menghentikan makan dan minum tetapi puasa itu ialah menghentikan omong-omong kosong dan kata-kata kotor ” . (HR. Ibn Khuzaimah).

Bulan ramadhan idealnya dijadikan madrasyah untuk melatih mental dan spiritual dalam rangka mensucikan diri dari belengu hal-hal yang propan menuju ridho Illahi terutama dalam mereposisi dan merejuvenasi kesalehan.

Reposisi Kesalehan Dalam Ber-Islam

“Udkhuluu fis silmi kaffah ”, masuklah kedalam Islam secara “kaffah”. Dari pengertian ini jelas dengan pendekatan teologis, kesalehan dalam Islam tidaklah dikotomis. Sehingga didapat bahwa kesalehan dalam Islam adalah “totalitas”, mencakup hablum minallah dan hablum minannas. Tapi dengan pendekatan sosiologis kesalehan dalam Islam dapat dibagi dua macam kesalehan pertama, kesalehan ritual dan kedua, kesalehan sosial.

Kesalehan ritual, menunjuk perilaku muslim yang hanya mementingkan ibadat mahdlah, ibadat yang semata-mata berhubungan dengan Tuhan untuk kepentingan sendiri. Kelompok yang sangat tekun melakukan sholat, puasa, dan seterusnya; namun tidak peduli akan keadaan sekelilingnya. Dengan ungkapan lain, hanya mementingkan hablum minallah. Sedangkan “kesalehan sosial” adalah perilaku muslim yang sangat peduli dengan nilai-nilai Islami, yang bersifat sosial. Suka memikirkan dan santun kepada orang lain, suka menolong, dan seterusnya; meskipun orang-orang ini tidak setekun kelompok pertama dalam melakukan ibadat seperti sembayang dan sebagainya itu, lebih mementingkan hablun minan naas (Bisri: 2006)

Boleh jadi hal itu memang bermula dari fenomena kehidupan beragama kaum Muslim itu sendiri, dimana memang sering kita jumpai sekelompok orang yang tekun beribadat, bahkan berkali-kali haji misalnya, namun kelihatan sangat “bebal’ terhadap kepentingan masyarakat umum, tak tergerak melihat saudara-saudaranya yang lemah tertindas.

Seolah-olah Islam hanya mengajarkan orang untuk melakukan hal-hal yang dianggapnya menjadi hak Allah belaka. Sebaliknya juga, sering dijumpai orang-orang Islam yang sangat concern terhadap masalah-masalah ummat, sangat memperhatikan hak sesamanya, kelihatan begitu mengabaikan “ibadat pribadinya”.

Bulan suci Ramadhan dengan keistimewaan yang hanya dimiliki olehnya, memainkan peran menentukan dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu, pemanfaatan bulan ini sebaik-baiknya merupakan instrumen reposisi kesalehan, rejuvenasi (baca: penguatan kembali) kesalehan ritual (baca: spiritualitas pribadi) menuju kesalehan sosial. Ibadah puasa dan zakat fitrah adalah salah satu yang memperlihatkan kedua aspek tersebut sekaligus. Dengan kata lain, takwa yang menjadi sasaran puasa dan zakat fitrah kaum Muslim, sebenarnya berarti kesalehan total yang mencakup “kesalehan ritual” dan “kesalehan sosial”. Kecenderungan perhatian sesorang terhadap salah satunya, tidak boleh mengabaikan orang lain. Kesalehan ritual dan kesalehan sosial adalah dua wajah dari satu keping mata uang yang sama, mengintegral dan tak dapat dipisahkan.

Rejuvenasi Kesalehan Pribadi Menuju Kesalehan Sosial

Secara filosofis, di balik semua kewajiban yang diturunkan oleh Allah (tak terkecuali ibadah puasa) kepada hamba-Nya tentu mengandung nilai positif, baik yang bersifat teologis maupun sosial. Nilai atau makna teologis yang terkandung dalam ibadah puasa adalah untuk meningkatkan rasa syukur serta kualitas religius seseorang menjadi muttaqin (insan yang bertaqwa), yang pada akhirnya berdampak pada tumbuhnya tatanan nilai dan kualitas sosial umat.

Menurut syariat, puasa ialah menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa (seperti makan, minum, hubungan kelamin, dan sebagainya) semenjak terbit fajar sampai terbenamnya matahari, dengan disertai niat ibadah kepada Allah, karena mengharapkan ridha-Nya dan meningkatkan ketaqwaan kepada-Nya (Madjid: 2007).
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan kepada kamu puasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang yang sebelum kamu, supaya kamu menjadi orang-orang yang bertaqwa.” (Q.S. 2 :183).

Perintah puasa diatas dimulai dengan firman Allah : “Wahai orang-orang yang beriman” dan disudahi dengan : ” Mudah-mudahan kamu menjadi orang yang bertaqwa”. Syekh Musthafa Shodiq al-Rafi’ie (1356 H/1937 M) dalam bukunya wahy al-Qalam mentakwil kata “takwa” dengan ittiqa, yakni memproteksi diri dari segala bentuk nafsu kebinatangan yang menganggap perut besar sebagai agama, dan menjaga humanisme dan kodrat manusia dari perilaku layaknya binatang. Dengan puasa, manusia dapat menghindari diri dari bentuk yang merugikan diri sendiri dan orang lain, sekarang atau nanti.

Puasa Ramadhan adalah arena pematangan emosi, intelektual, dan spiritual. Efek puasa mendorong kita matang berkomunikasi secara sosial. Maka, puasa memotivasi kita untuk melakukan kesalehan sosial, berperilaku produktif, berlatih sabar, dan memberi maaf (Muzadi: 2007).

Pada bulan Ramadhan, umat Islam benar benar dimanjakan oleh Allah dengan janji janji pahala terhadap semua amal kebajikan dan amal ibadah yang dilakukan, serta janji ampunan terhadap umat yang memperbanyak istighfar. Janji pahala dan ampunan dari Allah ini secara fenomenal berimplikasi pada perilaku sosial umat Islam secara global, sehingga pada bulan Ramadan umat Islam berlomba lomba untuk berbuat kebajikan.

Pada bulan Ramadhan umat manusia banyak melakukan sedekah serta melakukan amal shaleh seperti tadarus, shalat tarawih, kuliah Ramadhan, dan kegiatan kegiatan lain yang bernuansa religius. Kesan yang muncul pada bulan Ramadhan adalah bahwa seolah olah semua orang menjadi shaleh, religius, dan dermawan. Fenomena ini bisa dilihat di berbagai kelompok masyarakat seperti maraknya gelaran paket Ramadhan di media massa (radio dan televisi), Ramadhan in campus, pesantren Ramadhan, dan sebagainya, sehingga tampak semacam trend.

Trend Ramadhan ini bahkan menggejala sampai di instansi-instansi baik pemerintah maupun swasta dimana petugas mengubah tampilan dengan berbusana muslim (missal : petugas pria berpeci dan petugas wanita berkerudung). Melihat fenomena umum pada bulan Ramadhan ini, ada rasa harap harap cemas yang berwujud dalam sebuah pertanyaan: Bisakah segala kesalehan ini dipertahankan menjadi identitas umat secara paten dan tidak hanya berjalan selama satu bulan saja ?

Menjawab pertanyaan dan kecemasan di atas bukan hal yang mudah karena setidaknya ada dua instrumen utama yang menjadi pisau analisa, yaitu (1) perlunya pemahaman terhadap makna puasa, yang disempurnakan (2) konsistensi dan aplikasi dari pemahaman tersebut. Perlunya seseorang memahami makna puasa dimaksudkan agar puasa yang dilakukan tidak bersifat mekanis dan sekedar “menggugurkan kewajiban” sehingga tidak memiliki nilai guna bagi yang menjalaninya. Sedangkan perlunya konsistensi ditegakkan oleh umat yang berpuasa, dimaksudkan agar amal saleh yang dilakukan tidak hanya berlangsung selama bulan Ramadan saja, tetapi menjadi amalan yang istiqamah pasca bulan Ramadhan.

Sebenarnya kalau kita melihat makna yang terkandung dalam ibadah puasa, ada beberapa nilai-nilai edukatif bagi orang beriman untuk bisa mencapai keunggulan kompetitif baik dalam pengendalian hawa nafsu maupun pengembangan empati dan simpati terhadap lingkungan, serta pembiasaan sikap jujur pada diri sendiri. Beberapa pelajaran tersebut pada hakekatnya merupakan proses pembentukan manusia yang memiliki kepribadian luhur dan kepekaan serta kepedulian sosial.
Secara doktrinal, Islam menjelaskan bahwa puasa yang dilakukan secara baik dan benar bisa menjadi perisai yang melindungi manusia dari hiruk pikuk kehidupan yang materialistis-hedonistis (ash-shiyaamu junnatun). Untuk dapat menjalankan puasa dengan baik dan benar, seseorang perlu memahami ghirat .

Pada hakekatnya, puasa bisa dimaknai sebagai sebuah upaya untuk menahan diri dari segala sesuatu yang bersifat kesenangan biologis-duniawi, termasuk di dalamnya menahan nafsu amarah. Untuk mencapai keunggulan menjadi muttaqin dalam menjalankan “puasa yang berkualitas”, oleh karenanya, puasa hendaknya tidak sekedar dimaknai sebagai perjuangan untuk menahan haus . Dengan kata lain, puasa yang “bermakna” bukanlah sekedar puasa secara biologis-ragawi, tetapi juga puasa dalam ranah psikologis-ruhani dengan cara menahan diri untuk tidak memelihara pikiran buruk terhadap sesama, melakukan tindakan yang tidak terpuji, serta mengumbar nafsu amarah.

Dalam sebuah hadist mutawatir dijelaskan, bahwa Allah tidak membutuhkan puasa seseorang selagi orang tersebut masih berbuat keji dan tidak peduli terhadap lingkungannya. Ini berarti bahwa puasa seseorang akan menjadi lebih bermakna apabila berdampak pada munculnya motivasi seseorang untuk berbuat baik terhadap sesama.
Jika sholat mampu menghapus citra arogansi individual manusia diwajibkan bagi insan muslim, haji dapat mengikis perbedaan status sosial dan derajat umat manusia diwajibkan bagi yang mampu, maka puasa adalah kefakiran total insan bertakwa yang bertujuan mengetuk sensitifitas manusia dengan metode amaliah (praktis), bahwasanya kehidupan yang benar berada di balik kehidupan itu sendiri. Dan kehidupan itu mencapai suatu tahap paripurna manakala manusia memiliki kesamaan rasa, atau manusia “turut merasakan” bersama, bukan sebaliknya. Manusia mencapai derajat kesempurnaan (insan kamil) tatkala turut merasakan sensitifitas satu rasa sakit, bukan turut berebut melampiaskan segala macam hawa nafsu.

Dari sini puasa memiliki multifungsi. Setidaknya ada tiga fungsi puasa: tazhib, ta’dib dan tadrib. Puasa adalah sarana untuk mengarahkan (tahzib), membentuk karakteristik jiwa (ta’dib), serta medium latihan untuk berupaya menjadi manusia yang kamil dan paripurna (tadrib), yang pada esensinya bermuara pada tujuan akhir puasa: takwa. Takwa dalam pengertian yang lebih umum adalah melaksanakan segala perintah Allah dan meninggalkan segala larangan-Nya.

Ada sejenis kaidah jiwa, bahwasanya “cinta” timbul dari rasa sakit. Di sinilah letak rahasia besar sosial dari hikmah berpuasa. Dengan jelas dan akurat, Islam melarang keras segala bentuk makanan, minuman, aktivitas seks, penyakit hati dan ucapan merasuki perut dan jiwa orang yang berpuasa. Dari lapar dan dahaga, betapa kita dapat merasakan mereka yang berada di garis kemiskinan, manusia papa yang berada di kolong jembatan, atau kaum tuna wisma yang kerap berselimutkan dingin di malam hari atau terbakar terik matahari di siang hari. Ini adalah suatu sistem, cara praktis melatih kasih sayang jiwa dan nurani manusia. Adakah cara yang paling efektif untuk melatih cinta? Bukankah kita tahu bahwa selalu ada dua sistem yang saling terkait: yang melihat dan yang buta, yang cendikia dan yang awam, serta yang teratur dan yang mengejutkan.

Jika cinta antara aghniya yang lapar terhadap fuqarra wal masakin yang lapar tercipta, maka untaian hikmah kemanusiaan di dalam diri menemukan kekuasaannya sebagai “sang mesias”, juru selamat. Orang yang berpunya dan hatinya selalu diasah dengan puasa, maka telinga jiwanya mendengar suara sang fakir yang merintih. Ia tidak serta merta mendengar itu sebagai suara mohon pengharapan, melainkan permohonan akan sesuatu hal yang tidak ada jalan lain untuk disambut, direngkuh dan direspon akan makna tangisannya itu. Kaum aghniya akan memaknai itu semua atas pengabdian yang tulus, iimaanan wa ihtisaaban. Semua karena Allah, karena hanya Dia Sang pemilik segala.

Penutup

Bulan Ramadhan adalah bulan yang baik untuk kita semua dalam memperbaiki kualitas dan kuantitas ketaqwaan kepada Allah SWT. Adalah sebuah keniscayaan bagi setiap muslim untuk bisa berbagi dengan sesamanya khususnya kaum lemah dan terpinggirkan. Maka dari itu rejuvenasi kesalehan ritual yang bersifat pribadi menuju kesalehan sosial adalah fardhu a’in bagi tiap-tiap muslim.

Posted in Tak Berkategori | | | 0 Comments

  • Kalender Perjuangan

    Mei 2012
    S S R K J S M
    « Sep    
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031  
  •